PENDAHULUAN
Kemajuan teknologi informasi di era Masyarakat 5.0 telah mengubah cara orang menjalani hidup mereka, terutama cara mereka berbicara satu sama lain dan terhubung dengan orang lain. Remaja, yang tumbuh di dunia yang penuh dengan teknologi, adalah kelompok yang paling banyak menggunakan media sosial dan situs web online. Perkembangan baru ini membawa banyak keuntungan, seperti memudahkan pencarian informasi, membantu orang terhubung dengan lebih banyak orang, dan membantu dalam pembelajaran. Tetapi pada saat yang sama, teknologi baru juga telah menyebabkan beberapa masalah sosial, seperti perundungan siber.
Perundungan siber adalah ketika seseorang menindas orang lain menggunakan internet atau alat digital, seperti mengirim pesan jahat, memposting hal-hal buruk secara online, berkomentar negatif di media sosial, atau membuat pernyataan yang mengancam secara online. Situasi ini semakin memburuk karena remaja banyak menggunakan internet. Perundungan siber dapat memiliki efek jangka panjang pada kesehatan mental seseorang, menyebabkan masalah seperti rendahnya harga diri, kekhawatiran, ketegangan, kesedihan, dan dalam beberapa kasus, menghindari interaksi sosial. Selama masa remaja, orang-orang sedang melewati masa penting ketika mereka mulai mencari tahu siapa diri mereka dan apa yang mereka yakini tentang diri mereka sendiri. Konsep diri adalah bagaimana seseorang melihat dan merasakan tentang dirinya sendiri, termasuk tubuhnya, bagaimana ia menyesuaikan diri dalam masyarakat, dan keadaan mentalnya. Remaja yang merasa nyaman dengan diri mereka sendiri biasanya lebih mampu mengatasi stres, dapat mengendalikan perasaan mereka dengan lebih mudah, dan cenderung tidak terpengaruh oleh perilaku buruk di sekitar mereka. Di sisi lain, rasa percaya diri yang lemah dapat membuat remaja lebih mudah dipengaruhi oleh orang lain, seperti dampak buruk dari cyberbullying.
Oleh karena itu, membangun rasa percaya diri yang kuat adalah cara utama untuk membantu remaja menghadapi cyberbullying di era Masyarakat 5.0. Remaja diharapkan mengembangkan pandangan positif tentang diri mereka sendiri, menjadi lebih percaya diri, dan mendapatkan dukungan dari keluarga, sekolah, dan teman-teman untuk membangun ketahanan psikologis yang kuat. Pendekatan ini berfungsi untuk mencegah masalah sebelum dimulai dan juga membantu melindungi orang dari dampak buruk cyberbullying. Artikel ini membahas berbagai cara untuk membantu remaja membangun rasa percaya diri yang lebih kuat dalam menghadapi cyberbullying di era Masyarakat 5.0. Diharapkan hasil dari percakapan ini akan membantu guru, orang tua, konselor, dan pihak lain untuk bekerja sama menciptakan kelompok remaja yang kuat, mampu menjaga diri sendiri, dan cerdas dalam menggunakan teknologi.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yaitu metode penelitian yang berfokus pada pengumpulan dan analisis data dalam bentuk numerik menggunakan teknik statistik. Pendekatan ini bertujuan untuk mendapatkan hasil penelitian yang objektif, terukur, dan dapat dianalisis secara sistematis. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian korelasional kuantitatif, yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dan perilaku cyberbullying pada remaja.
Penelitian dilakukan dengan mendistribusikan kuesioner kepada responden sebagai alat utama pengumpulan data. Instrumen penelitian disiapkan berdasarkan variabel yang diteliti, yaitu konsep diri dan perilaku cyberbullying. Data dikumpulkan menggunakan survei Google Form yang mencakup pertanyaan pilihan ganda, memungkinkan responden untuk menjawab berdasarkan situasi dan pengalaman mereka sendiri. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari remaja berusia 18 hingga 23 tahun. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yang melibatkan pemilihan partisipan berdasarkan kriteria spesifik yang selaras dengan tujuan penelitian. Kuesioner berisi total 35 item, terdiri dari 20 item untuk mengukur konsep diri dan 15 item untuk menilai perilaku cyberbullying.
Instrumen untuk mengukur konsep diri diadaptasi dari kuesioner “Struktur Konsep Diri Pribadi” (PSC), sedangkan instrumen perundungan diadaptasi dari kuesioner “Pelaku Perundungan Siber di Kalangan Siswa Sekolah Menengah Spanyol: Sebuah Studi Eksploratif”. Skala konsep diri menggunakan model skala Likert dengan empat pilihan jawaban: 1 = sangat tidak setuju, 2 = tidak setuju, 3 = setuju, dan 4 = sangat setuju. Sementara itu, perilaku perundungan siber diukur menggunakan skala Likert dengan kategori: 1 = tidak pernah, 2 = jarang, 3 = kadang-kadang, dan 4 = sering.
Data yang dikumpulkan dari kuesioner dianalisis menggunakan teknik statistik korelasional untuk menentukan tingkat hubungan antara variabel konsep diri dan perundungan siber. Analisis ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang jelas tentang hubungan antara kedua variabel tersebut di kalangan remaja di era Masyarakat 5.0.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kepercayaan diri remaja dengan perilaku perundungan daring pada remaja usia 18–23 tahun di era Society 5.0. Data diperoleh melalui penyebaran kuesioner secara daring menggunakan Google Form kepada responden yang memenuhi kriteria penelitian. Setelah dilakukan proses pengumpulan data, seluruh jawaban responden dinyatakan valid dan dapat digunakan dalam analisis lebih lanjut.
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, data dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui gambaran umum masing-masing variabel penelitian.
Tabel 1. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian
Variabel |
Jumlah Responden |
Skor Minimum |
Skor Maksimum |
Mean |
Standar Deviasi |
|---|---|---|---|---|---|
| Kepercayaan Diri Remaja | 100 | 45 | 80 | 65,40 | 7,25 |
| Perilaku Perundungan Daring | 100 | 20 | 55 | 32,15 | 6,80 |
Berdasarkan Tabel 1, dapat diketahui bahwa nilai rata-rata kepercayaan diri remaja sebesar 65,40 yang termasuk dalam kategori sedang hingga tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki persepsi positif terhadap dirinya sendiri. Sementara itu, nilai rata-rata perilaku perundungan daring sebesar 32,15 menunjukkan bahwa tingkat keterlibatan responden dalam tindakan perundungan di dunia maya berada pada kategori rendah hingga sedang. Selanjutnya, untuk menguji hipotesis penelitian, dilakukan analisis korelasi Pearson guna mengetahui hubungan antara kepercayaan diri remaja dan perilaku perundungan daring.
Tabel 2. Hasil Uji Korelasi Pearson
Variabel Independen |
Variabel Dependen |
Koefisien Korelasi (r) |
Sig. (p-value) |
Interpretasi |
|---|---|---|---|---|
| Kepercayaan Diri Remaja | Perilaku Perundungan Daring | -0,52 | 0,000 | Hubungan Sedang |
Berdasarkan hasil analisis korelasi pada Tabel 2, diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar -0,52 dengan tingkat signifikansi 0,000 (p < 0,05). Hasil ini menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kepercayaan diri remaja dan perilaku perundungan daring. Dengan demikian, hipotesis penelitian yang menyatakan adanya hubungan antara kedua variabel dapat diterima.
Hubungan negatif tersebut mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat kepercayaan diri remaja, maka semakin rendah kecenderungan mereka untuk terlibat dalam perilaku perundungan daring. Sebaliknya, remaja dengan tingkat kepercayaan diri rendah cenderung memiliki risiko lebih besar untuk terlibat dalam perilaku negatif di dunia maya. Selain uji korelasi, dilakukan pula analisis koefisien determinasi untuk mengetahui besarnya kontribusi variabel kepercayaan diri terhadap perilaku perundungan daring.
Tabel 3. Koefisien Determinasi
Variabel Independen |
Nilai r |
R² |
Kontribusi (%) |
|---|---|---|---|
| Kepercayaan Diri Remaja | -0,52 | 0,27 | 27% |
Berdasarkan Tabel 3, nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,27 menunjukkan bahwa kepercayaan diri remaja memberikan kontribusi sebesar 27% terhadap perilaku perundungan daring. Sementara itu, sebesar 73% dipengaruhi oleh faktor lain di luar variabel penelitian, seperti lingkungan pergaulan, pola asuh keluarga, pengaruh media sosial, dan kondisi psikologis individu.
Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan diri remaja memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku perundungan daring. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa aspek psikologis individu, khususnya kepercayaan diri, memegang peranan penting dalam membentuk perilaku sosial remaja di ruang digital.
Remaja yang memiliki kepercayaan diri tinggi cenderung mampu menilai dirinya secara positif, memiliki kontrol emosi yang baik, serta tidak mudah terpengaruh oleh tekanan lingkungan. Mereka lebih mampu mengekspresikan pendapat secara sehat, menghargai perbedaan, serta menghindari tindakan yang dapat merugikan orang lain. Sikap ini membuat mereka lebih kecil kemungkinannya untuk terlibat dalam perilaku perundungan daring.
Sebaliknya, remaja dengan kepercayaan diri rendah cenderung merasa kurang dihargai, tidak aman, dan mudah mengalami stres. Kondisi tersebut dapat memicu perilaku agresif sebagai bentuk kompensasi atas ketidakpuasan terhadap diri sendiri. Dalam konteks media sosial, perilaku ini sering diwujudkan melalui komentar kasar, penyebaran informasi palsu, atau penghinaan terhadap pihak lain.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa kepercayaan diri bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi perilaku perundungan daring. Kontribusi sebesar 27% menunjukkan bahwa terdapat faktor lain yang turut berperan, seperti pola komunikasi dalam keluarga, pengaruh teman sebaya, tingkat literasi digital, serta intensitas penggunaan media sosial. Oleh karena itu, upaya pencegahan perundungan daring perlu dilakukan secara menyeluruh dan melibatkan berbagai pihak.
Dalam era Society 5.0, remaja dihadapkan pada tuntutan untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi secara bijak. Penguatan kepercayaan diri dapat menjadi strategi preventif yang efektif dalam membentuk karakter digital yang positif. Program bimbingan konseling di sekolah, pendidikan karakter, pelatihan literasi digital, serta pendampingan orang tua menjadi langkah penting dalam membangun ketahanan psikologis remaja.
Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan kepercayaan diri remaja merupakan salah satu faktor kunci dalam menekan perilaku perundungan daring. Remaja yang memiliki kepercayaan diri yang baik akan lebih mampu mengelola emosi, menghargai diri sendiri dan orang lain, serta menggunakan media digital secara bertanggung jawab.
KESIMPULAN
Penelitian dan diskusi menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang jelas dan penting di mana kepercayaan diri yang lebih tinggi pada remaja dikaitkan dengan perilaku perundungan daring yang lebih rendah di era Masyarakat 5.0. Ini berarti bahwa ketika seorang remaja memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi, mereka cenderung kurang terlibat dalam perundungan daring. Di sisi lain, remaja yang memiliki kepercayaan diri rendah lebih cenderung terlibat atau melakukan perundungan daring.
Analisis statistik menunjukkan bahwa kepercayaan diri remaja berperan dalam perilaku perundungan daring, berkontribusi sekitar 27%, dan sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Faktor-faktor tersebut adalah lingkungan sosial, bagaimana orang tua mendidik anak-anak mereka, seberapa banyak seseorang menggunakan media sosial, pengetahuan mereka tentang penggunaan alat digital, dan kondisi kesehatan mental mereka. Jadi, perundungan daring bukan hanya tentang apa yang dirasakan seseorang di dalam hatinya, tetapi juga tentang orang-orang di sekitarnya dan cara-cara yang dilakukan secara daring.
Studi ini juga menunjukkan bahwa membangun kepercayaan diri adalah cara yang baik untuk membantu remaja berperilaku positif secara daring. Remaja yang memiliki banyak kepercayaan diri biasanya lebih baik dalam mengelola perasaan mereka, berpikir jernih, dan berperilaku bijaksana saat menggunakan media sosial. Ini adalah modal yang sangat penting untuk menghadapi masalah sosial yang semakin kompleks di Masyarakat 5.0.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa membangun kepercayaan diri pada remaja harus menjadi prioritas utama bagi orang tua, guru, dan pihak-pihak penting lainnya yang terlibat. Dengan mengembangkan karakter, mengajarkan keterampilan digital, dan memberikan bimbingan berkelanjutan, tujuannya adalah agar remaja menjadi pribadi yang kuat, jujur, dan dapat dipercaya yang menggunakan teknologi dengan bijak.
SARAN
Berdasarkan hasil penelitian tentang bagaimana kepercayaan diri remaja berhubungan dengan perundungan daring di era Masyarakat 5.0, para penulis menyarankan ide-ide berikut:
Pertama, remaja diharapkan terus membangun kepercayaan diri mereka dengan menjadi lebih sadar diri, lebih baik dalam mengelola emosi mereka, dan menggunakan media sosial dengan cara yang cerdas dan bijaksana. Mereka juga didorong untuk memilih dengan cermat informasi apa yang mereka terima, mengabaikan komentar buruk, dan menghormati pendapat yang berbeda secara daring.
Kedua, orang tua seharusnya memberikan perhatian, bantuan emosional, dan bimbingan yang cermat kepada anak-anak mereka dalam hal penggunaan alat digital. Orang tua harus berbicara secara terbuka dengan anak-anak mereka, memastikan rumah adalah tempat di mana setiap orang merasa aman dan nyaman, dan menunjukkan kepada mereka cara menggunakan teknologi dengan cara yang sehat dan bertanggung jawab.
Ketiga, sekolah dan pendidik harus berupaya meningkatkan program pendidikan karakter, layanan bimbingan dan konseling, dan literasi digital. Sekolah juga seharusnya merencanakan acara yang membantu siswa membangun kepercayaan diri mereka, seperti program kepemimpinan, kegiatan ekstrakurikuler, dan diskusi tentang cara menggunakan media sosial secara bertanggung jawab.
Keempat, pemerintah dan para pembuat kebijakan harus bekerja lebih keras untuk menghentikan perundungan daring dengan membuat aturan, menjalankan program pendidikan, dan menawarkan bantuan serta dukungan kepada orang-orang yang menjadi korban perundungan daring. Dukungan berkelanjutan dari kebijakan sangat penting untuk memastikan dunia daring yang aman bagi kaum muda.
Kelima, para peneliti di masa mendatang harus mempertimbangkan untuk memasukkan lebih banyak faktor dalam studi mereka, seperti pengendalian diri, dukungan sosial, jenis pengasuhan, atau seberapa banyak media sosial digunakan. Studi di masa mendatang juga dapat menggunakan teknik lain, seperti metode kualitatif atau gabungan, untuk lebih memahami masalah perundungan daring. Ketika remaja, keluarga mereka, sekolah, komunitas, dan pemerintah bekerja sama, diharapkan upaya untuk menghentikan perundungan daring akan berhasil dan berlangsung lama, membantu membangun dunia digital yang aman dan sehat yang mendukung pertumbuhan mental remaja.
