Dalam lima tahun terakhir, serangan DDoS berbasis HTTP yang berasal dari Indonesia meningkat hingga 31.900 persen. Kenaikan ini menunjukkan bahwa aktivitas botnet dan perangkat terinfeksi di wilayah Indonesia terus bertambah, sehingga memicu volume serangan yang semakin besar.
Selama periode Juli hingga September 2025, Cloudflare mencatat sekitar 8,3 juta serangan DDoS. Jumlah tersebut naik 15 persen dibandingkan kuartal sebelumnya dan 40 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024. Sebagian besar serangan ini berasal dari botnet Aisuru, yang dianggap sebagai salah satu botnet paling kuat saat ini.
Botnet Aisuru menginfeksi antara 1 hingga 4 juta perangkat di seluruh dunia. Perangkat yang terinfeksi meliputi komputer, server, router, hingga perangkat IoT. Aisuru mampu menghasilkan lalu lintas lebih dari 1 terabit per detik (Tbps) serta lebih dari satu miliar paket per detik (Bpps). Kapasitas sebesar ini cukup untuk melumpuhkan layanan digital dan mengganggu jaringan internet dalam skala besar.
Selain Indonesia, negara lain yang juga tercatat sebagai sumber serangan terbesar adalah Thailand, Bangladesh, Ekuador, Rusia, Vietnam, India, Hong Kong, Singapura, dan Ukraina.
Di sisi target serangan, China masih menempati posisi pertama. Negara tersebut menjadi sasaran favorit sebagian besar serangan DDoS global. Turki dan Jerman menyusul sebagai target lainnya. Menariknya, Amerika Serikat dan Filipina kini masuk daftar 10 besar target serangan, sesuatu yang sebelumnya tidak terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman siber semakin meluas dan memengaruhi wilayah yang lebih beragam.
Secara keseluruhan, Cloudflare menyatakan telah memblokir semua serangan yang terdeteksi pada kuartal III-2025. Rata-rata, ada sekitar 3.780 serangan yang diblokir setiap jam. Temuan ini menegaskan bahwa ancaman DDoS terus meningkat dan membutuhkan kesiapsiagaan yang lebih kuat.
